Di kalangan teman-temannya lebih dikenal dengan nama Ibay.
Jatuh hati pada media radio saat melakukan kerja praktek di Radio Maraghita, Bandung, 1994, sebagai salah satu syarat untuk lulus dari jurusan Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Pajdadjaran. Ia kemudian diminta memperkuat tim reporter Radio Mara, satu dari sedikit radio swasta di tanah air yang berani bermain di ranah jurnalisme saat rejim Soeharto mencengkeram kuat.
Sejak saat itu pekerjaan yang ia geluti tak pernah keluar dari lingkup radio dan jurnalistik. Kembali ke almamaternya tahun 1999, ketika diminta mengajar di Jurusan Penyiaran, Program D3 FIKOM UNPAD yang baru dibuka.
Kerja sama antara Radio Mara dengan Deutsche Welle membawa Ibay ke Jerman, tahun 2000. Sempat stress karena perubahan drastis dari radio yang siaran 19 jam sehari, ke radio yang on-air 120 menit sehari. Enam tahun kemudian memilih menjadi freelancer yang menurut dia, ”Lebih leluasa mengatur waktu“.
Kalau diberi pilihan, lebih suka menggarap tema-tema kemanusiaan. Masih belum puas berkutat di jurnalisme radio, terutama karena merasa belum menghasilkan karya yang bisa disebut master piece.
Hobi terbarunya, menyusuri jalan-jalan di Eropa bersama keluarga.