Suaranya yang merdu, tidak akan kita dengar lagi dalam siaran-siaran Deutsche Welle. Tjandradewi Gunawan-Ladener yang akrab disapa mbak Dewi, sudah dipanggil kembali oleh yang maha kuasa hari Minggu 18 Juli, pukul 12.40. Setelah berjuang selama hampir satu tahun melawan penyakit kanker yang dideritanya, Sang Pencipta telah memutuskan yang terbaik baginya.
Ujar-ujar mbak Dewi yang selalu terngiang dalam telinga adalah: Ibarat langsung terjun ke kolam renang, harus bisa berenang. Demikian ia mengenang saat pertama kali bergabung bersama Deutsche Welle. Berangkat ke Jerman untuk bekerja di Deutsche Welle pada tahun 1982, mbak Dewi memulai karir di bidang penyiaran. Mempelajari hal yang baru merupakan tantangan baginya, juga merupakan hal yang menyenangkan dan menarik.
Jerman serta Bahasa Jerman bukan sesuatu yang asing bagi mbak Dewi. Sebelumnya, ia pernah bekerja di Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. Setelah bekerja selama dua tahun di Deutsche Welle, yang kala itu masih berada di kota Köln, mbak Dewi kembali ke Indonesia. Pengalaman yang didapatnya di Jerman terus ia kembangkan dengan bekerja di Radio Pelita Kasih, Jakarta. Tahun 1986 Deutsche Welle kembali memanggil Mbak Dewi untuk memperkuat Redaksi Indonesia.
Berbagai macam rubrik sudah pernah dipegang oleh mbak Dewi. Suara khas yang lembut merupakan salah satu ciri khasnya di udara. Sementara pribadi keibuan yang ia miliki tidak saja menjadi tali pengikat batin bersama rekan kerja, tapi juga menjadi jembatan yang kokoh bagi terjalinnya hubungan Deutsche Welle dengan pendengarnya. “Sahabat dan saudara kami di udara”, demikian dikatakan banyak pendengar, mengungkapkan kehangatan yang dipancarkan mbak Dewi dalam siarannya. Selain di depan corong radio, mbak Dewi juga aktif di paduan suara internasional Deutsche Welle.
Kini, kehangatan suaranya lewat gelombang radio serta dendangnya yang merdu lewat paduan suara tinggal kenangan. Selamat jalan mbak Dewi, walaupun tidak bersama kami lagi, kenangan akan dirimu akan terus menyertai kami di udara dan akan selalu tertanam di telinga semua pendengar.