Sosial Budaya | 04.03.2008
Afganistan Hadir di Cebit 2008
Cebit 2008, pekan raya informatik dan telekomunikasi terbesar di dunia, berlangsung mulai 4 Maret di Hannover. Sekitar 5800 pemamer dari 75 negara memamerkan tren terbaru. Untuk pertamakalinya Afganistan ikut serta.
Warung internet pertama di Afganistan berdiri tak lama setelah tergulingnya milisi Taliban enam tahun silam. Waktu itu warnet sangat jarang dan harganya tidak terjangkau rakyat kebanyakan. Namun sejak itu banyak yang terjadi dalam perkembangan teknologi komunikasi dan informasi di Afganistan. Para penyedia jasa internet membangun jaringan kerja semakin erat, semakin murah dan semakin baik. Afganistan ingin menunjukkan banyak kemajuan dalam penampilan pertamanya di arena CeBIT. Namun selain itu, juga ada tantangan sangat besar, kata Mohammad Nasir Rahimy, wakil ketua Asosiasi Nasional untuk Teknologi Informasi dan Komunikasi Afganistan, NICTAA. Rahimy mengatakan, "Tidak diragukan lagi, ini sektor yang tumbuh dengan cepat. Teknologi Informasi dan Komunikasi memiliki potensi besar di Afganistan.Tapi masih banyak yang harus dikerjakan. Kami membutuhkan infrastruktur yang sesuai, listrik, personal, dan kami terutama butuh keamanan.“ Keamanan bukan hanya memainkan peran jika orang menarik kabel, memasang tiang pemancar dan menjalankan jaringan server. Keamanan juga merupakan kriteria penting untuk mendatangkan tenaga ahli ke Afganistan dan meminta mereka tinggal di negara itu. Kaum muda Afganistan memang punya ketertarikan besar terhadap teknologi informasi, tapi jarang yang memiliki pendidikan memadai. Karena itu, kata Rahimy, untuk sementara mereka menyewa tenaga ahli dari luar. "Tapi situasi keamanan sekarang tidak memungkinkan untuk mendatangkan tenaga ahli ke Afganistan. Beberapa tahun lalu masih lebih mudah. Tapi sekarang tidak ada lagi yang mau datang. Sementara kami belum punya cukup orang di dalam negeri untuk sektor informatika", kata Rahimy lagi. Banyak perusahaan mengeluh, bidang yang masih baru dan kecil itu tak mampu membayar pelamar yang berpendidikan baik dengan harga pantas. Bukan hanya pajak tinggi yang membebani sektor teknologi informasi, tapi juga saingan dari banyak organisasi internasional di Afghanistan. Demikian kata Mike Dawson dari operator internet Paiwastoon, di Afganistan. Dawson mengatakan, "Organisasi donor mengubah struktur gaji secara besar-besaran. Setiap orang kembali ke Afganistan setelah mendapat bea siswa atau bermukim di Eropa, mendapatkan tawaran uang banyak sekali dari masyarakat donor sehingga kami tidak mampu membayar mereka." Maka rencana perusahaan seperti Paiwastoon untuk mengembangkan diri diarahkan ke dalam negeri. Solusi kreatif untuk situasi sulit seperti di Afganistan. Masalah yang menghadang bukan hanya soal listrik dan koneksi yang lambat, tapi juga kurangnya pengetahuan Bahasa Inggris dan keharusan untuk menawarkan produk dalam bahasa Dari dan Pastu. Mike Dawson mengatakan, "Banyak negara lain di Asia dan Afrika yang punya persoalan sama dengani Afganistan. Karena itu kelak kami mengharapkan kemitraan agar dapat mengekspor teknologi yang kami kembangkan untuk Afganistan, ke negara-negara lain." Kepada empat pemamer dari Afganistan, Cebit 2008 menawarkan kesempatan untuk melihat-lihat pelanggan atau mitra di masa depan. Tetapi dalam pameran internasional teknologi informasi dan komunikasi di Hannover itu, mereka terutama ingin mengumpulkan ide dan belajar. Seperti ditekankan wakil NICTAA, Mohammad Nasir Rahimy. "Kami ingin melihat bagaimana perusahaan teknologi informasi lain mengembangkan bisnis dan menjalin kontak dengan mereka." (rp)














