Sosial Budaya | 02.07.2008
125 Tahun Pujangga Eksentrik Franz Kafka
1 / 4Kembali
Tak ada sastrawan yang seperti Franz Kafka. Dianggap begitu rumit, begitu gelap, begitu tidak karu-karuan. Lahir 3 Juli 1883, meninggal sebulan sebelum berusia 41 tahun, pada 3 Juni 1924.
Kalau saja ia masih hidup, hari Kamis tanggal 3 Juli Franz Kafka akan berusia 125 tahun.Franz Kafka tak pernah meramalkan sukses besarnya sebagai sastrawan. Namun teknik penulisannya yang begitu otentik dan orisinal, merupakan pilihan sadar dan sikap dasarnya dalam menulis. Dalam sebuah suratnya kepada Oskar Lotak, 27 Januari 1904, ia mengatakan, "Suatu buku haruslah bagai menikam atau mencederai pembacanya. Katanya, kalau buku itu tidak membangunkan kita dengan suatu tonjokan di kepala, untuk apa kita membacanya?"
Ia mengatakan, kalau perlu buku macam itu harus kita tulis sendiri. Lalu katanya pula, apa yang kita butuhkan adalah buku yang memberi dampak pada kita bagaikan bencana yang menciptakan duka cita yang mendalam, ibarat kematian seseorang yang kita cintai lebih dari diri kita sendiri, seumpama dibuang jauh ke rimba raya terkucilkan dari siapapun, seperti suatu bunuh diri. Buku haruslah merupakan sebuah kapak yang menghancurkan samudera yang membeku dalam diri kita
Betapa kuat kalimat-kalimat itu. Begitu kokoh. Dan begitu konsisten kredo kesastrawanannya itu diwujudkan dalam karya-karyanya. Yang gelap, dengan kata-kata yang berantakan, kalimat-kalimat panjang yang saling berhimpitan, membangun suatu arsitektur bahasa tersendiri, menciptakan suasana gelap, tertekan, terasing, getir, sendirian terkucil.
Bildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Sampul 'Biografi Franz Kafka: Tahun-Tahun Penjelmaan'
Tetapi siapakah Franz Kafka, si peracau itu? Sebuah buku baru diterbitkan menyambut ulang tahun Kafka ke 125. Judulnya, 'Biografi Franz Kafka: Tahun-Tahun Penjelmaan'. Pengarangnya, Reiner Stach mengatakan, dengan buku itu disusun berdasarkan hidup Franz Kafka dari 1916 hingga kematiannya 1924.
"Saya ingin menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa politik yang disaksikan Kafka khususnya selama Perang Dunia, bukan sekadar latar bagi hidupnya semata. Melainkan, dia juga sangat terlibat di dalamnya. Saat itu ia dipaksa untuk membeli surat obligasi dana perang. Akibatnya seluruh simpanannya, yang sebenarnya disimpan supaya nanti bisa berhenti dari kerjanya di perusahaan asuransi, dan hanya menulis sepanjang hidupnya itu habis. Bisa dibilang dicurilah, begitu."
1 / 4Kembali














