1. Isi
  2. Navigasi
  3. Artikel lainnya
  4. Metanavigasi
  5. Cari
  6. Pilih satu dari 30 bahasa

 
 
 

 

Politik dan Ekonomi | 03.07.2008

Pukulan Berat bagi FARC

Ingrid Betancourt, mantan calon untuk jabatan presiden Kolumbia, bebas dari enam tahun penyanderaan. Ini pukulan berat bagi Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolumbia (FARC), sekaligus kegemilangan bagi Presiden Uribe.

Dengan bebasnya Ingrid Betancourt dan 14 sandera lainnya berarti gerilyawan FARC kehilangan pegangan. Mereka itu termasuk dalam kelompok 40 sandera FARC yang hendak ditukar dengan 500 pejuang yang ditahan. Dari sejumlah e-mail yang ditemukan dalam komputer komandan FARC Raúl Reyes yang tewas awal Maret lalu, diketahui bahwa para gerilyawan hendak menyandera mereka selama mungkin, untuk menekan pemerintah. Tapi kini semua berubah, kata Carsten Wieland, wakil Yayasan Konrad-Adenauer di Kolumbia. Menurutnya:

"Pukulan ini akan lebih membuat sejumlah pejuang FARC mempertimbangkan untuk bekerjasama dengan pemerintah. Tiap minggu ada sekitar 8 pejuang yang menyerahkan senjata. Ini merupakan 'erosi' bagi FARC, dan memungkinkan pembebasan sandera. Ada pula berita tentang orang yang menyelusup pada FARC guna menyalurkan informasi yang penting bagi pembebasan sandera."

Aksi pembebasan spektakuler tanpa pertumpahan darah oleh militer Kolumbia, merupakan keberhasilan politik Presiden Alvaro Uribe, yang sejak memangku jabatan enam tahun lalu selalu menolak pembicaraan dengan FARC. Dengan dukungan AS ia mengutamakan penyelesaian secara militer. Politik tangan besinya terhadap FARC membuat dia disukai oleh para pemilih. Uribe yang menginginkan masa jabatan ketiga berniat menggolkan perubahan konstitusi lewat referendum. Dalam waktu dekat ia akan mengajukan UU mengenainya pada parlemen. Pembebasan Betancourt terjadi tepat waktunya.

Strategi militer Uribe berhasil, dan ia juga masih punya gebrakan lain terhadap para gerilyawan. Kata Carsten Wieland dari Yayasan Konrad-Adenauer:

"Ada program pemerintah, beasiswa, UU 'keadilan dan perdamaian', yang menetapkan hukuman maksimal bagi para bekas gerilyawan, kini juga berlaku bagi anggota FARC. Ini dicanangkan sejak awal tahun. Politik bertumpu pada kekuatan militer dan pemberian insentif bagi para pejuang FARC yang menyerahkan diri dan mau bekerjasama, merupakan keberhasilan pemerintahan Uribe. Tingkat kepopulerannya yang kini lebih dari 80 persen, akan bertambah lagi."

Sejumlah politisi dan organisasi HAM sedunia memperjuangkan pembebasan Ingrid Betancourt yang kini berusia 46 tahun. Terutama presiden Perancis Nicolas Sarkozy sejak memangku jabatannya, terus menekan  Uribe agar melakukan negosiasi dengan para gerilyawan dan menghentikan sebagian operasi militer, demi memungkinkan pembebasan para sandera. Awal tahun ini presiden Venezuela Hugo Chávez sudah berhasil membebaskan enam sandera FARC. Diantaranya Clara Rojas rekan separtai Betancourt yang dalam kampanye pemilu tahun 2002 sama-sama mengunjungi bekas wilayah kekuasaan FARC. Pemilu dimenangkan oleh Alvaro Uribe yang ayahnya dibunuh oleh FARC.

Di bawah Uribe dimulai perang sengit terhadap FARC. Mereka terus terdesak semakin dalam ke rimba belantara. Banyaknya gerilyawan yang tewas dan membelot, mengakibatkan jumlah pemberontak berkurang separuhnya menjadi sekitar 10.000 orang.

Setibanya di Bogota, Betancourt mengemukakan akan memperjuangkan pembebasan orang-orang yang masih disandera. 2323 hari dilaluinya di belantara Kolumbia selama disandera. Atas pertanyaan apakah dia menyesalkan perjalanannya ke daerah pemberontak dalam rangka kampanye pemilu enam tahun lalu, dikatakannya, sekarang pun dia akan mengambil keputusan yang sama. Demikian pula tidak mustahil bila dia mencalonkan diri kembali untuk jabatan presiden Kolumbia. (dgl)

 
 
Bookmark artikel

FeedbackKirimCetak

Topik berita lainnya