Politik dan Ekonomi | 04.07.2008
Gabungan LSM Jerman Tuntut G-8 Penuhi Janji
Menjelang dimulainya KTT kelompok G-8 di Jepang 7 Juli, gabungan LSM Jerman untuk kebijakan bantuan pembangunan, Venro, mengimbau negara G-8 untuk memenuhi janji bantuan keuangan.
Pada KTT 2005 di Gleneeagles (Skotlandia) dan 2007 di Heiligendamm, kelompok delapan negara industri terkemuka G-8 menjanjikan penambahan bantuan setiap tahun sejumlah 50 miliar dollar AS hingga 2010. Jerman masih belum dapat memenuhi jumlah bantuan yang dijanjikan, sedangkan Inggris, Prancis dan Jepang bahkan menguranginya.
Claudia Warning, Ketua gabungan LSM Jerman untuk kebijakan bantuan pembangunan, disingkat 'Venro' membawa kabar baik dari Afrika, yaitu: pertumbuhan ekonomi sebesar 6, 6 persen, penurunan kemiskinan menjadi minus enam persen dibandingkan tahun 2000, 36 persen peningkatan jumlah murid dan kenaikan 20 kali lipat dalam perawatan penderita penyakit AIDS. Yang juga menggembirakan adalah: dalam anggaran belanja Jerman tahun depan secara keseluruhan dialokasikan penambahan sekitar 800 juta Euro untuk kerjasama pembangunan. Namun Warning mengingatkan, pemerintah Jerman harus melakukan tindakan agar mengupayakan sekitar 13 milyar yang dijanjikan hingga tahun 2010. Jumlah ini sesuai dengan kesepakatan Eropa untuk menaikkan bantuan pembangunan sebesar 0, 51 persen dibandingkan dengan PDB atau produk domestik bruto. Warning menambahkan, secara keseluruhan, komunitas internasional menjanjikan bantuan sejumlah 150 milyar dollar:
"Tetapi kita dapat melihat bahwa hanya untuk perawatan AIDS diperlukan sekitar 30 hingga 40 milyar dollar per tahun. Jadi kita tahu tingginya biaya. Setiap hari sekitar 24. 000 orang meninggal akibat kemiskinan."
Emmanuel Noglo, seorang pria muda dari Togo yang giat dalam sebuah organisasi gereja menceritakan tentang dampak dari keputusan yang salah di desanya yang dulunya punya banyak sumur bersih:
"Akhir tahun 80-an pemerintah mundur dan penyediaan air bersih dikelola pihak swasta. Sekarang tidak ada satu pun sumur untuk mengambil air."
Selanjutnya Noglo juga menuding Bank Dunia yang ikut bertanggung jawab untuk situasi buruk tersebut, karena lembaga internasional itu menuntut dari pemerintahan Togo untuk melaksanakan program tersebut. Emmanuel Noglo juga menceritakan tentang bekas gurunya dan dua anaknya yang meninggal akibat kecelakaan, karena bantuan baru datang empat jam kemudian.
Masalah menahun lainnya adalah kurangnya penyediaan energi. Ketua Venro, Claudia Warning berpendapat, G-8 dapat membantu masalah itu melalui bantuan energi terbarukan:
"Ini berkaitan dengan keinginan, pengetahuan dan biaya investasi. Di sini Jerman dapat bertindak. Kita memimpin dalam sektor ini. Bermacam-macam yang dapat kita berikan, termasuk teknologi dan perpindahan know-how. Hal ini misalnya bisa ditangani G-8"
Akibat kenaikan harga energi, sasaran milenium yang dicanangkan PBB untuk mengurangi separo kemiskinan di dunia hingga tahun 2015 kini terancam, terutama yang berkaitan dengan penyediaan bahan pangan. Stephan Reimers, Ketua GKKE yaitu gabungan kerjasama gereja katolik dan protestan untuk bantuan pembangunan mengingatkan bahwa ancaman untuk mencapai sasaran milenium PBB harus dihadapi oleh masyarakat internasional.
Sementara Emmanuel Noglo, pria muda dari Togo, Afrika, menganggap bahwa negara-negara industri terkemuka harus meningkatkan kewajibannya untuk membantu. Noglo mengaitkan harapannya dengan mengutip mantan presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela yang juga adalah penerima hadiah Nobel Perdamaian:
"Mengentaskan kemiskinan bukanlah sikap belaskasihan, melainkan tindak keadilan." (cs)











