1. Isi
  2. Navigasi
  3. Artikel lainnya
  4. Metanavigasi
  5. Cari
  6. Pilih satu dari 30 bahasa


 

Pers Internasional | 07.07.2008

KTT G-8 Akan Jalan di Tempat?

Pada umumnya harian-harian internasional mengamati KTT G-8 dengan penilaian yang tidak mengembirakan.

Harian konservatif Hongaria MAGYAR NEMZET di Budapest menulis:

"Perubahan iklim, krisis minyak, harga bahan pangan, kemiskinan. Orang-orang yang realistis menilai pertemuan akan 'jalan di tempat'. Memang patut dikuatirkan, satu-satunya yang akan dijadikan hasil KTT ini adalah, bahwa tiap peserta dapat berkenalan dengan presiden baru Rusia Medvedev, dan berpamitan dengan presiden AS George W. Bush. Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya dan mengingat berbagai tantangan yang baru, para peserta forum ini hanya punya senjata tumpul."

Harian Inggris GUARDIAN di London menganggap para peserta KTT G-8 dapat melakukan satu hal, yaitu menurunkan harga minyak:

"Mereka dapat mengatasi spekulasi dan membuat bank-bank harus membayar mahal bila bertaruh pada harga bahan baku. Kalau begitu, dampaknya dapat seperti balon ditusuk jarum. Para politisi akan membicarakan harga minyak, tetapi tidak akan bertindak. Saat perekonomian dunia membutuhkan kepemimpinan, tokohnya tidak ada. Ini terkait pula pada janji-janji G-8 bagi negara-negara miskin dan perlindungan iklim. Dalam konsep komunike KTT kali ini, dana bantuan yang dijanjikan dalam KTT G-8 di Gleneagles tahun 2005 sama sekali tidak disinggung. Ini dapat terjadi pula menyangkut perubahan iklim. Tidak ada yang dapat diharapkan lebih dari sekedar pembentukan dana bagi teknik lingkungan untuk negara-negara miskin."

Bagi harian konservatif Norwegia AFTENPOSTEN di Oslo agenda KTT kali ini tidak mudah bagi para pemimpin negara-negara G-8. Dalam kondisi kemerosotan perekonomian dunia mereka harus memberikan kontribusi bagi penanganan krisis bahan pangan dan kemajuan dalam upaya memperoleh iklim yang lebih baik. Selanjutnya dapat dibaca:

"Jawaban praktis yang baik harus disertai kemampuan politik untuk bertindak. Dan ini hanya dimiliki oleh para politisi yang kuat di negaranya sendiri. Beberapa peserta pertemuan G-8 tidak memenuhi persyaratan itu. Presiden George W Bush hampir habis masa jabatannya. PM Inggris Gordon Brown sedang melemah posisinya. Dan presiden Perancis Nicolas Sarkozy dalam tahun pertama masa jabatannya telah kehilangan sejumlah besar dukungan. Jadi tidak banyak yang dapat diharapkan dari KTT G-8 ini."

Sedangkan harian Perancis LIBÉRATION yang terbit di Paris menganggap G-8 harus diperbarui:

"KTT ini memelihara ilusi, bahwa merekalah yang berkuasa di dunia. KTT G-8 menarik perhatian media dan demonstran, memancing diselenggarakannya KTT tandingan dan munculnya pengritik sistem pemerintahan sedunia. Seperti takut pada bayangannya sendiri, KTT G-8 diselenggarakan di pulau terpencil atau di pegunungan yang sulit dicapai. Wartawan, saksi dan demonstran ditahan pada jarak berkilometer, tidak boleh mendekati lokasi. Mengapa Kanada dan Perancis termasuk dalam kelompok eksekutif dunia itu, tetapi India atau Brazil tidak? Memang hanya dengan mengajak kedua negara itu bukan jalan penyelesaian. Sudah waktunya G-8 diperbarui. "

Demikian pula harian Italia CORRIERE DELLA SERA yang terbit di Milano melontarkan diskusi untuk meluaskan 'club G-8':

"Menghapuskan klub delapan negara ini? sudah tidak ditabukan, walaupun menggunakan dalih 'perluasan G-8'. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy lah yang pertama-tama akan membuka diskusinya. Ia mengusulkan untuk menerima Cina, India dan Meksiko. Prakarsa G-13 ini didukung oleh PM Inggris Gordon Brown. Jepang menolak tegas karena takut statusnya tersaingi oleh kedua raksasa di Asia itu. Tapi, apakah G-13 akan jadi rumusan untuk masa depan? Mengapa tidak G-16 dengan Indonesia, Korea Selatan dan Australia?"

 

Dewi Gunawan-Ladener

 
Bookmark artikel

FeedbackKirimCetak

Topik berita lainnya