1. Isi
  2. Navigasi
  3. Artikel lainnya
  4. Metanavigasi
  5. Cari
  6. Pilih satu dari 30 bahasa


 

Fokus | 08.07.2008

KTT G-8 Bahas Politik Iklim dan Sanksi Bagi Zimbabwe

Agenda hari kedua (8/7)sangat padat. Antara lain mengenai perekonomian dunia, harga bahan pangan dan energi hingga masalah politik luar negeri seperti Iran, Afghanistan dan Zimbawe.

Para aktivis lingkungan hidup yang turut berada di Jepang selama KTT G-8 berlangsung tampak skeptis akan kesepakatan yang tercapai di hari kedua KTT tentang pengurangan emisi gas rumah kaca. Penasihat politik Greenpeace Daniel Mittler berpendapat, tahun 2050 bumi sudah lama mendidih dan para pemimpin G-8 pun sudah lupa akan janji mereka.

"Tidak ada yang mereka katakan yang berbeda dari saat di Heiligendamm. Disana mereka bilang akan menganggap serius masalah ini. Disini mereka bilang akan mendiskusikannya dengan yang lain. Apa yang kita butuhkan adalah sasaran yang jelas. Ini tidka bisa diberikan oleh G8. Khususnya Bush."

Presiden Amerika Serikat George W. Bush akan berdiskusi pada hari terakhir KTT dengan perwakilan dari negara ambang industri tentang kompromi yang telah dicapai negara G8. Karena sekarang masalahnya adalah, bagaimana negara seperti Cina dan India menemukan strategi hingga tahun 2009 dimana kesepakatan iklim baru diharapkan bisa tercapai di Kopenhagen. G 8 ingin mengambil alih posisi pimpinan dan lebih berperan dibandingkan negara-negara ambang industri. Optimisme yang terdengar dari kubu G8 tidak berarti jalan menuju keputusan akhir telah lapang. Berikut keterangan kanselir Jerman Angela Merkel.

"Saya tidak menutup-nutupi bahwa hingga Kopenhagen 2009 masih banyak perundingan berat yang harus kita hadapi. Karena kita tidak hanya membutuhkan sasaran jangka panjang, kita juga membutuhkan sasaran jangka pendek. Uni Eropa memiliki sasaran semacam itu, yang lainnya tidak punya. Dan sasaran semacam itu dengan tanggung jawab yang berbeda-beda harus diserahkan kepada negara-negara industri dan juga kepada negara ambang industri."

Tema-tema lain yang juga dibahas di hari kedua KTT G-8 antara lain adalah masih tentang harga minyak dan bahan pangan serta situasi di Zimbabwe. Para pemimpin negara anggota G-8 menolak mengakui keabsahan pemerintahan Presiden Robert Mugabe dan berjanji untuk mengambil tindakan terhadap rezim tersebut. Kecaman keras antara lain dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat George W. Bush dan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown saat pihak oposisi Zimbabwe menuduh milisi yang berpihak pada Mugabe mulai menyerang para pendukung oposisi. Dalam pernyataan bersama, para pemimpin G-8 mengatakan mereka tidak akan mengakui pemerintahan bentuk apa pun yang tidak mewakili keinginan rakyat Zimbabwe. Mereka menambahkan akan memberikan sanksi antara lain dalam bentuk sanksi ekonomi dan juga langkah lain terhadap pihak yang bertanggung jawab atas aksi kekerasan yang terjadi disana. Selain itu juga diusulkan penunjukkan utusan khusus yang akan melaporkan situasi di Zimbabwe kepada Sekjen PBB Ban Ki Moon dan mendukung usaha pihak-pihak di Afrika yang menjadi penengah politik. (vlz)       

 
 
Bookmark artikel

FeedbackKirimCetak

Topik berita lainnya