Politik dan Ekonomi | 09.07.2008
Tajuk: Adakah Harapan Seusai KTT G-8?
Perubahan iklim, harga minyak dan pangan, krisis keuangan, bantuan Afrika dan reformasi perdagangan dunia, tema-tema itu dibicarakan pada KTT tujuh negara industri terkemuka plus Rusia atau G-8 pada tahun ini.
Tapi hasil apa yang dapat diberikan KTT ke-34 G-8 tersebut bagi dunia? Apa nilai-nilai kesepakatan KTT yang berlangsung selama tiga hari di pulau Hokkaido, Jepang itu? Berikut ini sebuah komentar:
Setahun sekali para pemimpin delapan negara kaya dan ekonomi mapan, mengadakan perembukan mengenai masalah dunia. Seusai pertemuan selalu ada foto bersama dan banyak janji yang dimanifestasikan. Tahun ini, selama tiga hari kelompok G-8 kembali bertemu di Toyako di pulau Hokkaido, Jepang Utara, di sebuah lokasi yang sangat indah. Tema pembicaraan lebih banyak daripada di KTT sebelumnya. Jumlah delegasi juga meningkat. Pada hari terakhir hadir 22 tokoh terpenting dari kelompok G-8.
Namun, sayangnya, penyelamatan iklim dunia lagi-lagi ditunda. Padahal negara-negara yang bertanggung jawab atas 80 persen emisi karbondioksida di dunia menghadiri KTT itu. Hanya sebuah langkah yang sangat kecil berhasil dicapai. Pernyataan pengurangan separo emisi gas rumah kaca hingga tahun 2050 awalnya terdengar cukup baik, Tapi, target baru akan tercapai 42 tahun ke depan. Artinya, masalahnya harus diselesaikan generasi mendatang. Satu-satunya harapan yang ada hanyalah kenyataan bahwa pada KTT G-8-nya yang terakhir, Presiden AS George W. Bush akhirnya harus menghentikan perlawanannya menentang target perlindungan iklim.
500 hari lagi, yaitu pada KTT Iklim Global di Kopenhagen harus dapat dibuktikan apakah janji-janji di Toyako bukan merupakan omongan kosong belaka. Mungkin dunia akan kecewa besar, bila kenyataan pahit yang akan dihadapi.
Bersamaan dengan berlangsungnya KTT G-8 di Toyako selama tiga hari itu, berbagai penduduk di pelosok dunia meninggal akibat kelaparan atau kekurangan air bersih. Krisis pangan mempertajam keadaan yang sebelumnya memang sudah mengenaskan. Lebih dari satu juta orang di Asia harus membelanjakan 60 persen dari penghasilannya untuk pangan. Apa yang dilakukan G-8 untuk menanganinya? Kelompok ini memberikan beberapa milyar dollar dan hendak memperbaiki struktur pertanian, misalnya di Afrika. Tapi, bukankah justru negara-negara kaya dari bagian utara itu yang menghancurkan struktur di Afrika melalui produknya yang disubsidi? Kini mereka mengumbar janji akan memberikan keringanan ekspor. Namun, dalam hal ini mungkin dunia juga akan kecewa lagi.
Satu-satunya aspek yang positif pada KTT ini adalah target bioenergi yang tampaknya akan dikesampingkan demi kepentingan pangan. Bahan bakar nantinya akan diproduksi dari sumber yang tidak untuk dimakan.
Mengingat begitu banyaknya masalah yang dihadapi, bantuan untuk Afrika bukan merupakan agenda utama dalam pembicaraan. Tapi, setidaknya janji-janji yang telah dinyatakan, kembali ditegaskan dan tidak sama sekali dibatalkan. Di sini perlu dicatat bahwa penyebabnya bukanlah karena kekurangan dana. Untuk menyelamatkan ambruknya pasar keuangan global, dalam waktu yang sangat singkat telah disediakan satu triliun dollar AS. Dengan jumlah dana yang dikeluarkan untuk diselenggarakannya KTT G-8 itu, empat juta pasien HIV dapat dirawat.
Jadi apa yang masih tersisa dari KTT itu? G-8 kembali ditantang untuk menyatakan apa yang untuk mereka bisa dibenarkan dan yang tidak. Untuk menangani masalah dunia, tampaknya KTT itu merupakan forum yang salah. G-8 harus membuka diri terhadap negara seperti Cina dan India. Jika tidak, G-8 akan kehilangan kredibilitasnya yang memang sudah sangat minim. (cs)













