Fokus | 09.07.2008
KTT G-8 Berakhir Tanpa Gebrakan
Pertemuan puncak G-8 yang berlangsung di Hokkaido, Jepang berakhir, Rabu (09/07). Agenda di hari terakhir konferensi adalah kerja sama negara industri dengan negara ambang industri dan masalah perubahan iklim.
Dalam komunike penutup konferensi puncak negara G-8 di Toyako, Jepang, kepala negara dan pemerintahan tujuh negara industri terkemuka dan Rusia menyerukan dicarinya solusi untuk mengatasi melejitnya dengan drastis harga minyak bumi dan bahan pangan, serta meningkatnya laju inflasi.
Negara G-8, selain itu menyebut lebih transparannya pasaran minyak dunia dan dilakukannya dialog antara negara produsen minyak dengan para konsumen. Sebelumnya, negara G-8 menyepakati pengurangan emisi gas rumah kaca setengahnya sampai tahun 2050. Tapi ditandaskan, tujuan itu hanya dapat dicapai lewat prakarsa internasional. Pada akhir konferensi puncak, Kanselir Jerman Angela Merkel mengungkapkan kerja sama yang kontstruktif dengan negara ambang industri.
"Kami menetapkan dengan apa yang disebut proses Heiligendamm, akan diintensifkan kerja sama negara G-8 dengan negara ambang industri. Untuk pertama kali dalam sejarahnya dilakukan pertemuan kepala negara dan pemerintahan untuk membahas perlindungan iklim. Itu berarti, dunia internasional di tingkat kepala negara dan pemerintahan mengambil alih tanggung jawabnya. Dengan demikian saya pikir, secara umum pertemuan yang kami selenggarakan berhasil. Semakin jelas, bahwa tidak ada satupun negara di dunia, yang dapat memecahkan masalahnya sendirian. Kita harus merapatkan barisan. Suasana diskusinya konstruktif dan pesterta dengan penuh pengertian memahami masalahnya."
Sementara itu, kesepakatan untuk mengurangi setengah emisi gas rumah kaca sampai tahun 2050 mengundang kritik. Kepala Program Lingkungan PBB Achim Steiner mengeluh, ketimbang menyampaikan visi yang baru akan dilaksanakan dalam waktu 42 tahun mendatang, lebih baik menyepakati tujuan jangka menengah sampai tahun 2020. Sementara Jörn Kalinski dari organisasi bantuan Oxfam juga menyampaikan kritiknya:
"Pertemuan puncak ini dalam sejarah mungkin disebut 'pertemuan puncak krisis' sehubungan dengan terjadinya krisis minyak bumi, bahan pangan, ekonomi dan iklim. Yang paling berat terkena krisis itu adalah negara miskin. Tantangan semakin meningkat, dan kita semakin sedikit dapat menyediakan sarana untuk menanganinya. Dengan demikian menurut pendapat kami, ini merupakan kegagalan."
Sementara itu pada hari terakhir konferensi puncak, negara G-8, lima negara ambang industri, G5 serta Australia, Korea Selatan dan Indonesia dalam pertemuannya menandaskan dijalinnya kerja sama yang kontstruktivf tapi tidak menyebutkan tujuannya yang konkret. Ke-16 negara itu dalam sebuah pernyataan bersama melihat perubahan iklim sebagai sebuah tantangan besar pada zaman kini.
Pada akhir konferensi puncak selama tiga hari, masih tersisa harapan. Dalam pertemuan puncak G-8 tahun depan di La Maddalena, sebuah pulau di depan pantai Sardinia, Italia diharapkan dapat dicapai kemajuan yang nyata, terutama bagi perlindungan iklim.(ar)














