Sains dan Teknologi | 16.07.2008
Penyakit Rakyat - Mitos atau Fakta?
1 / 3Kembali
Di Jerman, banyak yang mengeluh karena sakit punggung. Di negara lain penyakitnya beda, ada yang mengeluh karena cepat lelah, atau menderita pembengkakan hati. Inikah yang disebut 'Volkskrankheit' atau penyakit rakyat?
Di kalangan masyarakat Jerman keluhan sakit punggung tersebar luas. Menurut statistik, 30 persen warga Jerman pernah berobat atau menjalani terapi karena masalah pada punggungnya. Orang Jerman menyebut penyakit yang tersebar di masyarakat atau negara tertentu sebagai 'Volkskrankheit' atau penyakit rakyat.
Apa penyebabnya? Mungkinkah ini merupakan dampak mutasi gen yang hanya ditemukan pada suku bangsa tertentu? Kepala Institut Genetika Manusia Universitas Bonn Dr. Markus Nöthen memaparkan:
“Memang banyak penyakit disebabkan faktor keturunan. Tapi untuk 'Volkskrankheit' justru faktor ini dapat diabaikan, masih lebih banyak penyakit biasa yang bersumber pada defek genetis.“
Salah satu penyakit yang disebabkan defek genetis atau kerusakan pada gen adalah Down Syndrom. Faktor penyebab utamanya adalah keturunan. Tapi, bila dibandingkan penyakit rakyat, maka angka penderita Down Syndrom jauh lebih rendah. Ini bertolak belakang dengan keyakinan bahwa penyakit rakyat tersebar luas dalam masyarakat negara tertentu.
'Penyakit Rakyat' Bukan Istilah Kedokteran
“Sebenarnya, dalam ilmu kedokteran tidak ada istilah 'penyakit rakyat'. Tidak ada peta dunia mengenai penyakit tertentu yang hanya diderita bangsa tertentu.“
Demikian diungkap pakar genetika manusia Dr. Markus Nöthen. Berdasarkan penjelasan tersebut, seharusnya pembahasan mengenai 'Volkskrankheit' atau penyakit rakyat dapat dianggap tuntas. Tapi kemudian Dr. Markus Nöthen menambahkan:
“Memang ada penyakit yang lebih tersebar di negara tertentu. Misalnya saja serangan jantung yang terkait erat dengan sejumlah faktor risiko. Orang yang menderita obesitas atau kegemukan lebih mudah kena serangan jantung. Karena itu, jumlah orang yang menderita serangan jantung di Eropa jauh lebih tinggi daripada di negara Asia.“
Bildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Visualisasi serangan jantung (Max Planck Institut, 2004)
Serangan jantung juga jarang dialami penduduk Afrika, sama seperti tekanan darah tinggi. Tapi, bila penduduk Afrika bermigrasi, ke Eropa atau Amerika misalnya, maka mereka pun sering terserang tekanan darah tinggi. Kembali Dr. Markus Nöthen:
“Tentu saja, ini adalah faktor lingkungan. Karena konstitusi genetis seseorang tidak berubah, orang yang pindah ke negara lain tidak mengalami perubahan pada gen-nya. Dalam hal ini, masalah pangan yang menjadi penyebab utamanya.“
Tekanan darah tinggi dapat disebabkan stres, kegemukan, gaya hidup yang tidak aktif, konsumsi alkohol berlebihan serta makanan dengan kadar garam tinggi. Dan gaya hidup seperti ini dapat dikaitkan dengan kehidupan di sebagian besar negara maju.
1 / 3Kembali













