Politik dan Ekonomi | 21.08.2008
Sandra Saakashvili: Kami Meratapi Banyaknya yang Mati
Ibu Negara Georgia berasal dari Belanda. Untuk pertama kalinya ia menyuarakan pendapat dalam interview dengan televisi Belanda, mengenai perang, suaminya, Rusia dan tewasnya jurukamera Belanda di Gori.
Berita tentang penyerbuan tentara Rusia ke Georgia diterima Sandra Saakashvili saat ia berada di Beijing, menyaksikan Olimpiade. Ia lalu mempersingkat kunjungan dan kembali ke Georgia. Hingga kini perempuan kelahiran Belanda itu tetap bertahan di Tblisi.
Sikapnya yang penuh perhatian dan tidak dibuat-buat membuat rakyat Georgia menjuluki sang ibu negara dengan panggilan sayang 'Senyum Saakashvili”. Namun dalam wawancara dengan stasiun televisi Belanda, senyum itu tak banyak muncul.
Sandra Saakaschvili mengatakan, "Menurut saya, dalam perang tak ada yang menang, semua kalah. Kami meratapi banyak korban mati. Dan itu pedih sekali."
Istri Presiden Georgia Michail Saakashvili dibesarkan di provinsi Zeeland, Belanda, yang terkenal sebagai kawasan berlibur.
Setelah menamatkan studinya, ia bekerja sebagai penterjemah bahasa Jerman dan Perancis, antara lain di kota Straßburg. Di insititut Hak Asasi manusia di Perancis itulah, tahun 1993, ia mengenal pria yang kelak menjadi suaminya.
Mereka menikah di tahun yang sama, pindah ke New York dan beberapa tahun kemudian ke Tblisi.
Dengan kharisma dan kecerdasannya, Sandra langsung menaklukkan hati rakyat Georgia. Ia mendirikan yayasan sosial dan hingga kini mencurahkan perhatian dalam berbagai organsiasi untuk anak-anak, orang tua dan pengungsi.
Tak diragukan lagi, Sandra Saakashvili lebih dari sekedar istri yang setia mendampingi, tapi peran itulah yang hari-hari ini dibutuhkan suaminya.
Sandra mengatakan,"Saya percaya, dalam posisinya ia merasa mendapat dukungan. Kami berharap, pihak lain juga menggunakan akal sehat. Jangan terlalu menguji kesabaran Uni Eropa dan Amerika Serikat. Selain itu masih ada negara Eropa lain, Ukraina misalnya, yang memperhatikan dengan mata melotot, sambil berpikir, kalau di sini tidak bisa dihentikan maka akan merajalela ke sana kemari."
Sandra Saakashvili tidak membiarkan orang ragu tentang siapa yang baik dan siapa yang jahat dalam konflik Georgia-Rusia. Ibu dua anak itu menyatakan sangat terkejut atas tewasnya Stan Storiman, juru kamera televisi Belanda, akibat serangan bunuh diri di Gori, beberapa hari silam.
"Dia seusia saya, 39 tahun, juga punya dua anak. Sangat menyedihkan. Ada beberapa jurnalis yang tewas, termasuk dua warga Georgia. Saya mengirim telegram dukacita pada keluarga Storiman di Belanda. Tapi saya memutuskan untuk bertemu secara pribadi dengan keluarganya kelak", kata Sandra Saakashvili.
Sebetulnya, Ibu negara Georgia berencana untuk menghadiri pemakaman juru kamera itu di Belanda. Namun pihak keluarga korban khawatir akan hiruk pikuk media yang ingin meliput. Pemakaman Stan Storiman hanya dihadiri kalangan terdekatnya.
Sandra Saakashvili, istri presiden Georgia mengharapkan penarikan tentara Rusia secepatnya dan sepenuhnya. Hal itu sudah disepakati, katanya. Tapi, fakta bahwa tentara musuh tetap bertahan di Georgia, Sandra lebih suka tidak memikirkannya.
"Orang-orang sudah lelah. Mereka ingin membangun kembali eksistensinya, pulang ke rumah dan membersihkan puing-puing yang berserakan." (rp)











