1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikUkraina

Kisah Warga Ukraina Lari dari Daerah yang Diduduki Rusia

Anna Psemyska
6 Mei 2024

Masih ada satu perbatasan yang terbuka antara Ukraina dan kawasan yang diduduki militer Rusia. Beberapa warga Ukraina menceritakan kisah dramatis pelarian mereka dari wilayah yang diduduki.

https://p.dw.com/p/4fXCu
Lyudmila dan Viktor di perbatasan Kolotilovka-Pokrovka
Lyudmila dan Viktor yang menyeberang dari kawasan pendudukan Rusia ke wilayah yang dikuasai Ukraina

Setiap hari, bus yang dikemudikan oleh relawan melakukan perjalanan dari kota Sumy ke perbatasan Ukraina-Rusia dan sebaliknya. Mereka mengumpulkan orang-orang yang menyeberang di pos pemeriksaan Kolotilovka-Pokrovka. Kolotivka adalah desa di wilayah Belgorod yang dikuasai Rusia, sementara Pokrovka adalah desa wilayah  Sumy yang masih dikuasai Ukraina. Sejak April 2022, wilayah ini menjadi satu-satunya koridor kemanusiaan yang masih bisa dilalui warga Ukraina dari wilayah pendudukan Rusia untuk mencapai wilayah yang dikuasai Ukraina.

Suatu hari di awal Mei, ada 11 orang di dalam bus menuju Sumy. Penumpangnya sebagian besar adalah perempuan dan orang lanjut usia, namun ada dua remaja di dalam Bus. Beberapa orang menatap ke luar jendela, sementara yang lain tertidur kelelahan.

Banyak di antara mereka yang telah menempuh perjalanan selama beberapa hari untuk melarikan diri dan melewati etape terakhir, yaitu  "zona abu-abu" sepanjang 2 kilometer antara Kolotilovka dan Pokrovka, yang harus dilewati dengan berjalan kaki.

Pendaftaran di tempat penampungan di Sumy
Pendaftaran di tempat penampungan di Sumy

Merangkak melintasi perbatasan

"Semua orang berjalan cepat, tapi saya lebih lambat,” kata Viktor, seorang pensiunan dari wilayah Luhansk, menceritakan perjalanannya. Kedua kakinya diamputasi dan dia harus menggunakan kursi roda. Tetapi kursi roda dia berikan kepada istrinya Lyudmila untuk mengangkut barang bawaan mereka melalui zona abu-abu.

Viktor bermaksud merangkak sejauh 2 kilometer dengan bantuan bantalan buatan sendiri. Namun jarak ini ternyata terlalu panjang baginya. "Segera setelah saya melintasi perbatasan, saya tahu saya tidak akan berhasil,” kata Victor. Istrinya Lyudmila lebih dulu mencapai pos pemeriksaan Ukraina, dan meminta bantuan relawan untuk menjemput suaminya dengan kursi roda. Mereka menemui Viktor dan membantunya melewati zona.

Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Viktor dan Lyudmila lama ragu untuk melarikan diri, karena mereka tahu itu akan sangat sulit bagi Viktor. Untuk keluar dari wilayah pendudukan Rusia memerlukan perjalanan melalui Rusia ke negara Eropa, yang akan memakan waktu dan biaya mahal. Penyeberangan Kolotilovka-Pokrovka adalah satu-satunya pilihan mereka.

"Rasanya seperti berada di antara teman-teman sekarang," kata Viktor sambil menitikkan air mata bahagia. Rencana mereka adalah melanjutkan perjalanan ke Kyiv, tempat anak-anak dan cucu perempuan mereka yang baru lahir.

Di Pokrovka, petugas memeriksa surat-surat dan barang milik orang-orang yang datang dari wilayah pendudukan. Penjaga perbatasan Roman Tkach mengatakan, langkah keamanan yang ketat juga mencakup pencarian di database.

Setelah itu, sebuah bus membawa para pendatang baru ke tempat penampungan di Sumy, di mana mereka dapat mandi dan tinggal selama beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan gratis dengan kereta api ke Kyiv, Poltava, Kharkiv atau Dnipro.

Ukrainian families mourn soldiers killed in war

'Drone dan pasukan Rusia di mana-mana'

Mykhailo, mantan sopir bus yang sekarang sudah pensiun, ingin bertemu dengan putrinya Anna di Kharkiv. Dia tinggal di wilayah Kharkiv selama 40 tahun, di desa Tavolzhanka. Namun rumahnya kini berada di wilayah pendudukan dan mendapat serangan dari pasukan Rusia.

"Ada drone dan tentara Rusia di mana pun Anda melihat. Mereka menyeret segala sesuatu keluar dari rumah dan membongkarnya, seperti pintu, penutup lantai dan karpet, karena mereka membangun tempat berlindung untuk diri mereka sendiri,” katanya. Banyak tetangganya yang pindah ke Rusia dan menjadi kolaborator, kata Mykhailo, tapi dia menolak paspor Rusia.

Anastasia, 18 tahun, meninggalkan wilayah Kherson yang diduduki Rusia bersama pacarnya Petro [bukan nama sebenarnya]. Petro, yang berusia 18 tahun pada bulan Desember, menerima panggilan dari tentara Rusia pada bulan Maret.

"Kami memutuskan untuk melarikan diri, karena saya takut dia akan dibawa pergi,” kata Anastasia. Dia meninggalkan ibunya, saudara laki-lakinya yang berusia 7 tahun, dan neneknya yang berusia 80 tahun.

Setelah tiba di Sumy, Anastasia bertemu dengan ayahnya, seorang prajurit di angkatan bersenjata Ukraina. Mereka menangis dan berpelukan – selama dua tahun mereka tidak bertemu satu sama lain.

Saat ini, 20 hingga 40 orang menggunakan koridor kemanusiaan setiap hari untuk melarikan diri dari daerah pendudukan Rusia, kata penjaga perbatasan Tkach. Mereka berasal dari wilayah pendudukan di Donetsk, Luhansk, Kharkiv, Kherson dan Zaporizhzhia, serta dari semenanjung Krimea di Ukraina, yang dianeksasi Rusia pada tahun 2014.

Penyeberangan hanya dapat dilakukan pada siang hari dan hanya dalam satu arah - dari wilayah pendudukan Rusia ke Ukraina. "Warga negara Ukraina memiliki hak konstitusional memasuki wilayah Ukraina,” kata Tkach. Meskipun masih terjadi pertempuran, jalur penyeberangan Kolotilovka-Pokrovka masih tetap terbuka. (hp/yf)