DW-WORLD.DECetak

27.06.2008

Apa Jadinya Kalau Panser dan Matador Bertarung?

Apakah pendukung Jerman yang akan berpesta di Wina?

Tim Panser versus tim matador. Akhirnya final yang dinanti-nantikan seluruh penggemar sepakbola tiba juga. Hari Minggu (29/6) di stadion Ernst Happel di Wina, pasukan Joachim Löw akan berusaha mematikan serangan Spanyol.

Setelah 12 tahun, akhirnya Jerman berhasil lolos kembali ke babak final Piala Eropa. Terakhir adalah di tahun 1996. Jerman menjadi saat itu menjadi juara Piala Eropa melalui tendangan golden gol yang dicetak Oliver Bierhoff yang kini menjabat sebagai manajer timnas Jerman. Saat itu lawan Jerman adalah Ceko. Kini menghadapi Spanyol, bisa dibilang Jermanlah di posisi menantang. Ini jika dilihat dari stabilnya permainan Spanyol di Piala Eropa kali ini. Apalagi pelatih Jogi Löw belum punya pengalaman dengan Spanyol sebagai lawan. Pertemuan terakhir tahun 2003 dengan Rudi Völler sebagai pelatih, Jerman kalah 1:3. Bisakah Spanyol disamakan dengan Portugal yang dibuat tidak berkutik oleh Jerman? Löw menggelengkan kepalanya.

"Permainan mereka lebih bervariasi dari Portugal. Tim Portugal sangat bergantung dengan posisi masing-masing pemain. Dan seperti yang terlihat, pemain Spanyol, khususnya pemain tengah, seperti Xavi, Iniesta dan Fabregas, selalu bertukar posisi dan turut maju menyerang. Mereka lebih bervariasi, felsibel dan dengan ini juga tidak dapat dibaca gerakannya."

Spanyol bukan lawan yang ringan. Padahal sebelum pertandingan Kamis malam waktu setempat, banyak pemain Jerman yang lebih takut dengan Rusia. Apalagi para pemain FC Bayern München yang merasakan kehebatan para pemain Rusia yang tergabung dalam klub Rusia Zenith Petersburg. Mereka saat itu kalah telak di ajang Piala EUFA. Tetapi Spanyol yang berhadapan dengan Rusia, adalah permainan yang mendekati kesempurnaan. Lapangan tengah yang sangat kuat dimotori oleh Marcos Senna adalah kunci keberhasilan tim Luis Aragones ini. Senna juga dianggap sebagai pemain ideal yang akan mampu mematikan pergerakan kapten tim Jerman Michael Ballack. Jika Spanyol bermain seperti saat lawan Rusia di final nanti, akan sulit bagi Jerman bahkan untuk sekedar mengimbangi tempo permainan mereka. Francesc Fabregas pemain Spanyol mengatakan status timnya yang lebih diunggulkan tidak menghilangkan rasa respek mereka terhadap tim panser.

"Kami rasa Jerman menjadi lawan yang sulit. Beberapa tahun terakhir ini mereka menunjukkan bahwa mereka adalah salah satu tim terbaik di dunia. Dan secara pribadi saya salut akan semua keberhasilan mereka. Kami sudah mengira bahwa Jerman akan lolos final. Ini akan menjadi pertandingan yang sangat sulit bagi kami."

Spanyol sangat menginginkan gelar juara ini. Mereka terakhir menjadi juara Piala Eropa di tahun 1964. Semenjak itu prestasi tim matador di ajang turnamen internasional tidak pernah mencapai puncaknya. Besok malam, waktu setempat, Spanyol memiliki kesempatan baru di Wina. Ini juga akan menjadi hadiah perpisahan terindah bagi pelatih mereka Luis Aragones yang didesasdesuskan akan berpindah ke klub Fenerbache Istanbul.

Vidi Legowo-Zipperer

DW-WORLD.DECetak

Vidi Legowo-Zipperer | www.dw-world.de | © Deutsche Welle.