Sikap Uni Afrika Terhadap Mugabe

Dalam konferensi puncak Uni Afrika di Sharm el Syeik, Mesir, Presiden Mugabe didesak bekerja sama dengan kelompok oposisi. Tapi anggota Uni Afrika tidak melancarkan kecaman langsung terhadap Mugabe.
Harian Italia Corriere della Serra yang terbit di Milano, mengomentari desakan kepala negara dan pemerintahan Uni Afrika agar Presiden Robert Mugabe melakukan kerja sama dengan kelompok oposisi.
"Adalah untuk pertama kali dalam sejarahnya Uni Afrika menolak melindungi tindak kejahatan yang dilakukan salah seorang presiden negara anggotanya tanpa syarat. Pimpinan oposisi Zimbabwe Morgan Tsvangirai mendapat dukungan solidaritas dari mayoritas peserta konferensi puncak. Ini tentunya akan dapat menakuti-nakuti kepala negara tertentu di Afrika yang sampai sekarang dengan enggan menerima demokrasi. Disamping dukungan penguasa di Afrika yang tidak disenangi, Robert Mugabe juga dapat mengharapkan bantuan dari Cina. Ia menciptakan sebuah prinsip dasar bagi Cina untuk dapat merebut Afrika. Dan Cina sama sekali tidak akan campur tangan dalam masalah dalam negeri di negara lain. Pimpinan di Beijing menutup mata terhadap berlanjutnya pelanggaran hak asasi yang dilakukan politisi di Afrika, dimana dengan mereka Cina menjalin hubungan dagang yang baik."
Mengenai sikap Uni Afrika terhadap situasi aktual di Zimbabwe harian Swiss Tagesanzeiger menulis:
"Uni Afrika tidak akan mengucilkan Zimbabwe atau mengirimkan pasukan ke negara itu. Untuk pertama kalinya, sejak sepuluh tahun dibentuknya Uni Afrika, perhimpunan ini kelihatan terpecah. Dari konferensi puncak Uni Afrika, negara-negara Barat lebih mengharapkan munculnya kecaman, dikucilkannya Mugabe dan pengiriman pasukan ke Zimbabwe. Uni Afrika tidak bersedia mengambil langkah ke arah itu. Uni Afrika berkeinginan melakukan dialog yang konstruktitf agar Zimbabwe keluar dari krisis. Tapi tanpa bantuan yang berarti dari luar, serta tanpa penengah sekaliber mantan Sekjen PBB Kofi Annan, maka kompromi yang diinginkan akan gagal dicapai."
Harian Norwegia Aftenposten menulis:
"Ketika Mugabe merayakan kemenangannya, tekanan terhadap rejimnya yang berasal dari luar Afrika semakin meningkat. Sekarang untuk mempertahankan kekuasaannya Robert Mugabe hanya dapat melakukan aksi tindak kekerasan dan penekanan. Negara-negara, yang tergabung dalam Uni Afrika, telah merampungkan sebuah tugas. Dengan demikian, yang bisa diharapkan adalah menanganinya secara bersama. agar situasi di Zimbabwe tidak semakin memburuk.(ar)
| www.dw-world.de | © Deutsche Welle.