Mongolia Kembali Tenang

Lima orang tewas dan lebih dari 300 orang cedera dalam kerusuhan pasca pemilu di Mongolia. Pasca kerusuhan, situasi di Ulan Bator kini sudah kembali tenang
Situs video internet “You Tube” menunjukan gambar-gambar dari Mongolia. Demonstran-demonstran muda membobol blokade yang dipasang polisi dan di depan gedung-gedung pemerintahan di Ulan Bator, mereka mengacungkan tinju. Untuk mengatasi kerusuhan di ibukota Mongolia, pemerintah memberlakukan situasi darurat.
Kini situasi sudah tenang, begitu dilaporkan Renate Borman yang berada di Ulan Bator: “Di sini semua sudah tenang kembali. Media biasanya melaporkan secara berlebihan. Kehidupan sehari-hari sudah normal. Masyarakat memang harus menunjukan kartu identitas, bila diminta. Selain itu antara jam 10 malam sampai 8 pagi, tidak boleh ada yang berada di jalan-jalan di pusat kota. Ada patroli militer, tapi mereka seringnya duduk-duduk di pos penjagaan dengan senapan yang dipangku, sambil merokok.”
Renate Borman sudah 8 tahun menetap di Mongolia, yang penduduknya hanya berjumlah 2,6 juta orang dan secara geografis, terletak di antara Rusia dan Cina. Secara resmi disebutkan bahwa pemicu kerusuhan di ibukota adalah pemilihan umum pekan lalu. Saat itu, rakyat Mongolia memilih parlemen baru dan partai yang kalah menuduh saingannya melakukan manipulasi.
Renate Borman menilai bahwa kerusuhan itu sudah direncanakan: “Saya mengalaminya sendiri, saya berdiri di samping gedung pemerintah dan melihat wajah orang-orang yang melakukan kerusuhan itu. Wajah-wajah itu menunjukan rasa benci dan dendam. Bagi mereka masalahnya bukan soal demokrasi, atau politik, ataupun manipulasi pemilu. Bagi mereka yang penting adalah melakukan kerusuhan, saya juga mendengar omongan-omongan dari berbagai sumber yang mengatakan bahwa mereka dibayar oleh pihak-pihak politik yang merasa dirugikan karena tidak berhasil masuk parlemen.”
Dalam parlemen Mongolia yang terdiri dari 76 kursi, Partai Revolusi Rakyat Mongolia (MPRP) memenangkan 46 kursi. Sementara Partai Demokratik hanya memperoleh 26 kursi. Meskipun hasil pemilu secara resmi sudah diumumkan, kini sejumlah wilayah, coblosan suara dihitung ulang.
Bagi kebanyakan masyarakat Mongolia, yang sangat bangga atas tradisi damai serta demokrasi yang hidup di negaranya, kerusuhan ini sangat mengejutkan. Menurut Renate Borman, alasan utama kerusuhan adalah kesenjangan sosial. Meski Mongolia merupakan negara kaya sumber alam dan berpenghasilan tinggi dari pertambangan emas, tingkat kemiskinan dan pengangguran juga sangat tinggi. Sepertiga rakyat Mongolia hidup di bawah standar kemiskinan. (ek)
| www.dw-world.de | © Deutsche Welle.